Pembangunan jalan tol di Indonesia memiliki peran strategis dalam mempercepat pertumbuhan ekonomi, memperlancar distribusi barang dan jasa, serta memperkuat konektivitas antarkawasan. Namun demikian, keberhasilan pengoperasian jalan tol sangat bergantung pada kualitas konektivitas antara akses tol dengan jaringan jalan non-tol yang ada. Studi kasus Jalan Tol Pandaan–Malang menunjukkan bahwa ketidaksesuaian antara kapasitas jalan akses dan volume lalu lintas berpotensi menimbulkan permasalahan lalu lintas, seperti yang sebelumnya terjadi pada kasus Brebes Exit (Brexit) tahun 2016 lalu. Dalam konteks ini, pengelolaan manajemen akses menjadi aspek krusial yang harus dirancang secara terintegrasi dengan mempertimbangkan karakteristik jaringan jalan eksisting, dimensi geometrik, volume lalu lintas, tingkat pelayanan, dan kecepatan operasional. Untuk menjamin keberhasilan manajemen akses jalan tol, pemerintah perlu merumuskan kebijakan yang komprehensif dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan, serta meningkatkan kapasitas kelembagaan dan sumber daya manusia. Praktik-praktik terbaik (best practices) dari negara lain, seperti Amerika Serikat, dapat menjadi rujukan dalam pembentukan otoritas manajemen akses, klasifikasi jaringan jalan, mekanisme pemantauan, dan evaluasi. Dengan pendekatan yang tepat, manajemen akses jalan tol tidak hanya akan meningkatkan efisiensi sistem transportasi nasional, tetapi juga menjamin distribusi manfaat pembangunan secara merata baik bagi masyarakat perkotaan maupun pedesaan.
Ditulis oleh IIGF Institute, University Network for Indonesia Infrastructure Development (UNIID)