Buku Terang Jalannya, Makin Hemat Energinya: Efisiensi Energi Melalui KPDBU di Kabupaten Madiun mengangkat kisah transformasi penyediaan infrastruktur penerangan jalan melalui skema KPDBU. Berangkat dari keterbatasan anggaran daerah, tingginya biaya listrik, dan kebutuhan peningkatan pelayanan publik, Pemerintah Kabupaten Madiun berhasil menghadirkan 7.459 titik lampu LED di sepanjang sekitar 299 kilometer jalan. Proyek yang mulai beroperasi pada Juli 2023 ini menerapkan mekanisme Availability Payment (AP), dengan badan usaha bertanggung jawab atas pembiayaan, pembangunan, pengoperasian, dan pemeliharaan infrastruktur selama masa konsesi. Buku ini menyoroti bagaimana inovasi pembiayaan dapat menghasilkan manfaat yang melampaui pembangunan fisik. Modernisasi penerangan jalan mampu menurunkan tagihan listrik tahunan dari sekitar Rp15 miliar menjadi Rp5,4 miliar, mengurangi biaya pemeliharaan pemerintah, serta mendukung optimalisasi penerimaan daerah dari Pajak Barang dan Jasa Tertentu atas Tenaga Listrik (PBJT TL). Selain efisiensi fiskal, proyek ini turut mendukung keselamatan dan kenyamanan mobilitas masyarakat serta membuka peluang peningkatan aktivitas ekonomi pada malam hari. Melalui pendekatan naratif yang ringan, ilustrasi menarik, dan penyajian data proyek, buku ini menjelaskan konsep KPBU, mekanisme pembayaran berbasis kinerja, alokasi risiko, serta peran penjaminan PT PII secara sederhana dan mudah dipahami.
Secara keseluruhan, buku ini memberikan pembelajaran berharga mengenai pentingnya inovasi pembiayaan, komitmen pemerintah daerah, kolaborasi antarpemangku kepentingan, dan pengelolaan risiko dalam mewujudkan infrastruktur yang berkualitas dan berkelanjutan. Pengalaman Kabupaten Madiun menunjukkan bahwa keterbatasan fiskal tidak harus menjadi penghambat pembangunan, melainkan dapat menjadi pendorong lahirnya solusi kreatif yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Dengan menggabungkan pengalaman implementasi proyek dan pembelajaran praktis, buku ini menjadi referensi inspiratif bagi pemerintah daerah lainnya dalam mengembangkan skema KPBU yang sesuai dengan kebutuhan dan kapasitas daerah. Pesan utamanya, keberhasilan pembangunan bukan semata diukur dari banyaknya infrastruktur yang dibangun, tetapi dari seberapa besar manfaat yang dihasilkan bagi kehidupan masyarakat.
Secara keseluruhan, buku ini memberikan pembelajaran berharga mengenai pentingnya inovasi pembiayaan, komitmen pemerintah daerah, kolaborasi antarpemangku kepentingan, dan pengelolaan risiko dalam mewujudkan infrastruktur yang berkualitas dan berkelanjutan. Pengalaman Kabupaten Madiun menunjukkan bahwa keterbatasan fiskal tidak harus menjadi penghambat pembangunan, melainkan dapat menjadi pendorong lahirnya solusi kreatif yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Dengan menggabungkan pengalaman implementasi proyek dan pembelajaran praktis, buku ini menjadi referensi inspiratif bagi pemerintah daerah lainnya dalam mengembangkan skema KPBU yang sesuai dengan kebutuhan dan kapasitas daerah. Pesan utamanya, keberhasilan pembangunan bukan semata diukur dari banyaknya infrastruktur yang dibangun, tetapi dari seberapa besar manfaat yang dihasilkan bagi kehidupan masyarakat.

